Pahlawan Nasional Wanita ini memiliki peran besar dalam berbagai bidang, seperti melawan penjajah, berani membela hak-hak perempuan, memperjuangkan hak pendidikan, dan menjaga kehormatan bangsa.
Mereka menunjukkan eksistensi peran dalam perjuangan wanita di berbagai bidang tanpa mengabaikan kodratnya sebagai perempuan. Para pahlawan wanita yang tampil langsung di medan perang, yang bergerak di ranah sosial, mereka yang melakukan perlawanan melalui jurnalisme, yang membangun organisasi untuk memperkuat perlawanan kepada penjajah, menunjukkan berbagai peran yang dilakukan dalam melawan penjajah. Maka perempuan saat ini tentu harus bisa berkiprah lebih luas lagi di berbagai bidang di era kemerdekaan.
Raden Ajeng Kartini adalah seorang tokoh wanita pejuang yang mewariskan pemikiran revolusioner mengenai hak-hak perempuan dan pendidikan. Meskipun hidupnya sangat singkat, perjuangannya melalui pena berhasil menembus batas-batas sosial dan budaya, menginspirasi gerakan-gerakan kebangkitan perempuan di Indonesia.
Martha Christina Tiahahu adalah seorang gadis dari negeri Abubu di Nusalaut, Maluku Tengah. Pada usia 17 tahun, ia ikut mengangkat senjata melawan tentara kolonial Belanda. Ayahnya adalah Kapitan Paulus Tiahahu, seorang kapitan dari negeri Abubu yang membantu Thomas Matulessy dalam Perang Pattimura pada tahun 1817.
Cut Nyak Dhien merupakan pahlawan perempuan Indonesia yang berasal dari Aceh. Ia dikenal karena keberaniannya memimpin pasukan melawan Belanda selama Perang Aceh.
Dengan strategi perang gerilya yang menakutkan pasukan kolonial, ia menunjukkan kepemimpinan inspiratif dan pengorbanan pribadi yang besar demi kemerdekaan Aceh. Hal ini sekaligus menjadi penyebab pemberian gelar “Ratu Aceh” kepada Cut Nyak Dhien.
Cut Nyak Meutia adalah pahlawan wanita lain dari Aceh yang juga berjuang melawan penjajahan Belanda. Setelah kematian suaminya, Pang Nangroe, ia melanjutkan perjuangan dengan mengobarkan semangat perlawanan rakyat Aceh.
Dengan keberanian yang luar biasa, Cut Nyak Meutia terus memimpin pasukan hingga akhirnya gugur dalam perang di Alue Kurieng pada tanggal 24 Oktober 1910.
Raden Dewi Sartika berjuang menjadi pelopor pendidikan kaum wanita yang saat itu dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Raden Dewi Sartika lahir di Cicalengka, Jawa Barat, pada 4 Desember 1884.
Pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika memprakarsai Sekolah Isteri Wanita di Pendopo Kabupaten Bandung. Kemudian, ia sempat pindah tempat tinggal di Jalan Ciguriang tahun 1910 dan kemudian mendirikan Sekolah Kaoetamaan Isteri. Alasan pendirian sekolah tersebut salah satunya agar perempuan menjadi istri yang cerdas, merdeka, dan berani.
Maria Walanda Maramis dikenal sebagai pelopor organisasi perempuan di Minahasa yang memperjuangkan hak perempuan, khususnya dalam bidang pendidikan dan sosial ekonomi.
Pada tahun 1917, ia mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya) untuk memajukan pendidikan perempuan.
Selain itu, Maria juga mendirikan Huishoudschool PIKAT sebagai sekolah rumah tangga untuk gadis-gadis di Manado.
Siti Walidah, atau dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, adalah pendiri organisasi perempuan Islam ‘Aisyiyah.
Semasa hidupnya, Nyai Ahmad Dahlan memprakarsai didirikannya asrama putri wanita untuk pendidikan Islam yang didalamnya mempelajari retorika hingga dakwah Islam. Selain itu, ia juga mendirikan Sopo Tresno pada 1941. Untuk memimpin perjuangan rakyat, Nyai Ahmad Dahlan bersama Soekarno dan Soedirman pernah diskusi bersama membahas perang melawan pemerintah kolonial.
Pada periode sejarah tahun 1755 – tahun 1830 masyarakat belum mengenal arti emansipasi. Seperti diketahui, kedudukan wanita pada waktu itu tidak seperti status wanita abad ke 20. Namun Nyi Ageng Serang adalah seorang pejuang wanita yang maju ke medan pertempuran melawan pasukan penjajah dalam Perang Diponegoro pada tahun 1825 – 1830.
Dalam berbagai pertempuran yang dipimpin oleh Nyi Ageng Serang dan cucunya Raden Mas Papak selalu dapat mengalahkan Belanda, dengan taktiknya yang terkenal kamuflase daun lumbu (daun keladi).
Sejarah maritim Indonesia mencatat nama Keumalahayati atau yang lebih dikenal sebagai Laksamana Malahayati, seorang panglima angkatan laut Kesultanan Aceh Darussalam yang hidup pada abad ke-16. Ia tidak hanya dikenal sebagai salah satu panglima perang paling ditakuti, tetapi juga diakui sebagai laksamana perempuan pertama di dunia yang diangkat secara profesional.
Lahir sekitar tahun 1550 M di Aceh Besar, Malahayati berasal dari keluarga bangsawan maritim. Ayah dan kakeknya adalah laksamana Kesultanan Aceh, menanamkan semangat kelautan dan militer sejak dini. Malahayati menempuh pendidikan di Akademi Militer Ma’had Baitul Maqdis, khusus pada jurusan Angkatan Laut, di mana ia mengasah strategi perang dan taktik maritim.
Rasuna Said adalah sosok pejuang yang berani bersuara menentang penjajahan, bahkan dijuluki Singa Betina oleh Bung Karno karena keteguhannya.
Beliau aktif berjuang lewat pidato, tulisan, hingga organisasi perempuan untuk memajukan pendidikan dan kemerdekaan.
Semangatnya mengingatkan kita bahwa suara perempuan layak didengar, dan bahwa pendidikan adalah kunci untuk memperkuat emansipasi perempuan
Fatmawati adalah salah satu pahlawan wanita yang memiliki peran sangat penting dalam sejarah perjuangan Indonesia, khususnya pada saat Proklamasi Kemerdekaan. Sebagai istri dari Presiden Soekarno, ia tidak hanya mendampingi sang suami dalam momen-momen krusial, tetapi juga berperan langsung dalam peristiwa besar yang menandai kemerdekaan bangsa ini.
Salah satu kontribusi terbesar yang dikenang adalah jasanya dalam menjahit bendera Merah Putih yang dikibarkan pada Proklamasi 17 Agustus 1945.
Seiring terpilihnya Soeharto sebagai Presiden pada tahun 1967, Ibu Tien Soeharto resmi menyandang peran sebagai Ibu Negara Indonesia dan menjalankan tugas tersebut hingga tahun 1996. Selama hampir 29 tahun mendampingi pemerintahan Orde Baru, Ibu Tien dikenal memiliki pengaruh yang cukup besar dalam berbagai kegiatan sosial, kebudayaan, dan pembangunan nasional.
Salah satu kontribusinya yang paling dikenal adalah gagasannya dalam pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang bertujuan memperkenalkan dan melestarikan keragaman budaya Indonesia.
Beliau merupakan pemimpin partai politik perempuan pertama di Sulawesi Selatan dan aktif menyebarkan semangat kemerdekaan melalui ideologi partai ke berbagai daerah seperti Bajo, Belopa, dan Malili.
Selama masa perjuangan, ia mengalami penyiksaan fisik yang berat dari tentara NICA, termasuk hukuman lari mengelilingi lapangan di bawah ancaman letusan senapan di dekat telinganya yang mengakibatkan ia menderita tuli permanen seumur hidup.
Andi Depu merupakan seorang pahlawan nasional wanita asal Mandar, Sulawesi Barat. Ia dikenal atas jasa dan keberaniannya dalam melawan penjajah di tanah Mandar. Saat masa pendudukan Jepang, Andi Depu turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia juga ikut serta dalam menyebarkan berita kemerdekaan di wilayah Mandar pada tahun 1945.
Tak hanya itu, melalui organisasi badan perjuangan dan aktivitas gerilya, ia melakukan perlawanan terhadap NICA (Netherlands Indies Civil Administration atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) dan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) di Sulawesi pada periode 1945-1950.
Di abad 16 M, sosok wanita ini telah dikenal oleh orang Portugis sebagai seorang pemberani. Masyarakat Jepara mengenalnya sebagai Ratu Kalinyamat. Sejak masih gadis, Ia telah memusuhi Portugis dan semakin sengit rasa permusuhannya setelah menjadi penguasa Jepara.
Seorang penulis Portugis bernama Diego de Couto menuliskan tentang Ratu Kalinyamat dalam kalimat Rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige dame yang artinya Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani.
Adalah wartawati pertama Indonesia. Pada 1911, Ruhana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Sembari aktif di bidang pendidikan yang disenanginya, Ruhana menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia.
Ketika dibredel pemerintah Hindia Belanda, Ruhana berinisiatif mendirikan surat kabar, bernama Sunting Melayu, yang tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Roehana hidup pada zaman yang sama dengan Kartini, ketika akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi.
Seorang reformator pendidikan Islam dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pendiri Diniyah Putri, perguruan yang saat ini meliputi taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Sewaktu Revolusi Nasional Indonesia, ia memelopori pembentukan unit perbekalan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padang Panjang serta menjamin seluruh perbekalan dan membantu pengadaan alat senjata mereka.
Keberadaan Diniyah Putri kelak menginspirasi Universitas Al-Azhar membuka Kulliyatul Banat, fakultas yang dikhususkan untuk perempuan. Pada 1955
Marsinah adalah seorang aktivis buruh dan pekerja pabrik asal Indonesia yang menjadi simbol perjuangan hak-hak buruh di era Orde Baru. Bekerja sebagai buruh di PT Catur Putra Surya (CPS), sebuah pabrik arloji di Porong, Sidoarjo. Marsinah dikenal sebagai sosok vokal yang berani memperjuangkan hak-hak pekerja, terutama terkait upah layak dan kondisi kerja yang manusiawi
Marsinah aktif dalam berbagai aksi unjuk rasa buruh, terutama pada awal Mei 1993. Ia terlibat dalam rapat-rapat dan aksi mogok kerja bersama rekan-rekannya untuk menuntut kenaikan upah pokok dan tunjangan tetap. Keberaniannya memimpin aksi dan memperjuangkan keadilan membuatnya dihormati di kalangan buruh dan menjadi inspirasi hingga kini.
Kartini adalah seorang pejuang kemerdekaan dan kedudukan kaumnya, pada saat itu terutama wanita Jawa.
Raden Ajeng Kartini adalah seorang tokoh penting yang mewariskan pemikiran revolusioner mengenai hak-hak perempuan dan pendidikan. Meskipun hidupnya singkat, perjuangannya melalui pena berhasil menembus batas-batas sosial dan budaya, menginspirasi gerakan kebangkitan perempuan di Indonesia.
21 April 1879
Jepara, Hindia Belanda
Martha Christina Tiahahu adalah seorang gadis dari negeri Abubu di Nusalaut, Maluku Tengah. Pada usia 17 tahun, ia ikut mengangkat senjata melawan tentara kolonial Belanda. Ayahnya adalah Kapitan Paulus Tiahahu, seorang kapitan dari negeri Abubu yang membantu Thomas Matulessy dalam Perang Pattimura pada tahun 1817.
4 Januari 1800 Abubu, Nusa Laut, Maluku Tengah, Hindia Belanda
Cut Nyak Dhien merupakan pahlawan perempuan Indonesia yang berasal dari Aceh. Ia dikenal karena keberaniannya memimpin pasukan melawan Belanda selama Perang Aceh.
Dengan strategi perang gerilya yang menakutkan pasukan kolonial, ia menunjukkan kepemimpinan inspiratif dan pengorbanan pribadi yang besar demi kemerdekaan Aceh. Hal ini sekaligus menjadi penyebab pemberian gelar “Ratu Aceh” kepada Cut Nyak Dhien.
Cut Nyak Meutia adalah pahlawan wanita lain dari Aceh yang juga berjuang melawan penjajahan Belanda. Setelah kematian suaminya, Pang Nangroe, ia melanjutkan perjuangan dengan mengobarkan semangat perlawanan rakyat Aceh.
Dengan keberanian yang luar biasa, Cut Nyak Meutia terus memimpin pasukan hingga akhirnya gugur dalam perang di Alue Kurieng pada tanggal 24 Oktober 1910.
15 Februari 1870 Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, Kesultanan Aceh
Raden Dewi Sartika berjuang menjadi pelopor pendidikan kaum wanita yang saat itu dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Raden Dewi Sartika lahir di Cicalengka, Jawa Barat, pada 4 Desember 1884.
Pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika memprakarsai Sekolah Isteri Wanita di Pendopo Kabupaten Bandung. Kemudian, ia sempat pindah tempat tinggal di Jalan Ciguriang tahun 1910 dan kemudian mendirikan Sekolah Kaoetamaan Isteri. Alasan pendirian sekolah tersebut salah satunya agar perempuan menjadi istri yang cerdas, merdeka, dan berani.
Maria Walanda Maramis dikenal sebagai pelopor organisasi perempuan di Minahasa yang memperjuangkan hak perempuan, khususnya dalam bidang pendidikan dan sosial ekonomi.
Pada tahun 1917, ia mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya) untuk memajukan pendidikan perempuan.
Selain itu, Maria juga mendirikan Huishoudschool PIKAT sebagai sekolah rumah tangga untuk gadis-gadis di Manado.
1 Desember 1872
Kema, Minahasa Utara, Hindia Belanda
Siti Walidah, atau dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, adalah pendiri organisasi perempuan Islam ‘Aisyiyah.
Semasa hidupnya, Nyai Ahmad Dahlan memprakarsai didirikannya asrama putri wanita untuk pendidikan Islam yang didalamnya mempelajari retorika hingga dakwah Islam. Selain itu, ia juga mendirikan Sopo Tresno pada 1941. Untuk memimpin perjuangan rakyat, Nyai Ahmad Dahlan bersama Soekarno dan Soedirman pernah diskusi bersama membahas perang melawan pemerintah kolonial.
Pada periode sejarah tahun 1755 – tahun 1830 masyarakat belum mengenal arti emansipasi. Seperti diketahui, kedudukan wanita pada waktu itu tidak seperti status wanita abad ke 20. Namun Nyi Ageng Serang adalah seorang pejuang wanita yang maju ke medan pertempuran melawan pasukan penjajah dalam Perang Diponegoro pada tahun 1825 – 1830.
Dalam berbagai pertempuran yang dipimpin oleh Nyi Ageng Serang dan cucunya Raden Mas Papak selalu dapat mengalahkan Belanda, dengan taktiknya yang terkenal kamuflase daun lumbu (daun keladi).
1 Oktober 1752
Sragen, Hindia Belanda
Sejarah maritim Indonesia mencatat nama Keumalahayati atau yang lebih dikenal sebagai Laksamana Malahayati, seorang panglima angkatan laut Kesultanan Aceh Darussalam yang hidup pada abad ke-16. Ia tidak hanya dikenal sebagai salah satu panglima perang paling ditakuti, tetapi juga diakui sebagai laksamana perempuan pertama di dunia yang diangkat secara profesional.
Lahir sekitar tahun 1550 M di Aceh Besar, Malahayati berasal dari keluarga bangsawan maritim. Ayah dan kakeknya adalah laksamana Kesultanan Aceh, menanamkan semangat kelautan dan militer sejak dini. Malahayati menempuh pendidikan di Akademi Militer Ma’had Baitul Maqdis, khusus pada jurusan Angkatan Laut, di mana ia mengasah strategi perang dan taktik maritim.
Rasuna Said adalah sosok pejuang yang berani bersuara menentang penjajahan, bahkan dijuluki Singa Betina oleh Bung Karno karena keteguhannya.
Beliau aktif berjuang lewat pidato, tulisan, hingga organisasi perempuan untuk memajukan pendidikan dan kemerdekaan.
Semangatnya mengingatkan kita bahwa suara perempuan layak didengar, dan bahwa pendidikan adalah kunci untuk memperkuat emansipasi perempuan
14 September 1910
Maninjau, Agam, Hindia Belanda
Fatmawati adalah salah satu pahlawan wanita yang memiliki peran sangat penting dalam sejarah perjuangan Indonesia, khususnya pada saat Proklamasi Kemerdekaan. Sebagai istri dari Presiden Soekarno, ia tidak hanya mendampingi sang suami dalam momen-momen krusial, tetapi juga berperan langsung dalam peristiwa besar yang menandai kemerdekaan bangsa ini. Salah satu kontribusi terbesar yang dikenang adalah jasanya dalam menjahit bendera Merah Putih yang dikibarkan pada Proklamasi 17 Agustus 1945.
Seiring terpilihnya Soeharto sebagai Presiden pada tahun 1967, Ibu Tien Soeharto resmi menyandang peran sebagai Ibu Negara Indonesia dan menjalankan tugas tersebut hingga tahun 1996. Selama hampir 29 tahun mendampingi pemerintahan Orde Baru, Ibu Tien dikenal memiliki pengaruh yang cukup besar dalam berbagai kegiatan sosial, kebudayaan, dan pembangunan nasional. Salah satu kontribusinya yang paling dikenal adalah gagasannya dalam pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang bertujuan memperkenalkan dan melestarikan keragaman budaya Indonesia.
23 Agustus 1923
Jaten, Kadipatèn Mangkunagaran, Hindia Belanda
Ia merupakan pemimpin partai politik perempuan pertama di Sulawesi Selatan dan aktif menyebarkan semangat kemerdekaan melalui ideologi partai ke berbagai daerah seperti Bajo, Belopa, dan Malili.
Selama masa perjuangan, ia mengalami penyiksaan fisik yang berat dari tentara NICA, termasuk hukuman lari mengelilingi lapangan di bawah ancaman letusan senapan di dekat telinganya yang mengakibatkan ia menderita tuli permanen seumur hidup.
Andi Depu merupakan seorang pahlawan nasional wanita asal Mandar, Sulawesi Barat. Ia dikenal atas jasa dan keberaniannya dalam melawan penjajah di tanah Mandar. Saat masa pendudukan Jepang, Andi Depu turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia juga ikut serta dalam menyebarkan berita kemerdekaan di wilayah Mandar pada tahun 1945.
Tak hanya itu, melalui organisasi badan perjuangan dan aktivitas gerilya, ia melakukan perlawanan terhadap NICA (Netherlands Indies Civil Administration atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) dan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) di Sulawesi pada periode 1945-1950.
Agustus 1907
Tinambung, Polewali Mandar
Di abad 16 M, sosok wanita ini telah dikenal oleh orang Portugis sebagai seorang pemberani. Masyarakat Jepara mengenalnya sebagai Ratu Kalinyamat. Sejak masih gadis, Ia telah memusuhi Portugis dan semakin sengit rasa permusuhannya setelah menjadi penguasa Jepara.
Seorang penulis Portugis bernama Diego de Couto menuliskan tentang Ratu Kalinyamat dalam kalimat Rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige dame yang artinya Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani.
Adalah wartawati pertama Indonesia. Pada 1911, Ruhana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Sembari aktif di bidang pendidikan yang disenanginya, Ruhana menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia.
Ketika dibredel pemerintah Hindia Belanda, Ruhana berinisiatif mendirikan surat kabar, bernama Sunting Melayu, yang tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Roehana hidup pada zaman yang sama dengan Kartini, ketika akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi.
20 Desember 1884
Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda
Seorang reformator pendidikan Islam dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pendiri Diniyah Putri, perguruan yang saat ini meliputi taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Sewaktu Revolusi Nasional Indonesia, ia memelopori pembentukan unit perbekalan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padang Panjang serta menjamin seluruh perbekalan dan membantu pengadaan alat senjata mereka.
Keberadaan Diniyah Putri kelak menginspirasi Universitas Al-Azhar membuka Kulliyatul Banat, fakultas yang dikhususkan untuk perempuan. Pada 1955
Marsinah adalah seorang aktivis buruh dan pekerja pabrik asal Indonesia yang menjadi simbol perjuangan hak-hak buruh di era Orde Baru. Bekerja sebagai buruh di PT Catur Putra Surya (CPS), sebuah pabrik arloji di Porong, Sidoarjo. Marsinah dikenal sebagai sosok vokal yang berani memperjuangkan hak-hak pekerja, terutama terkait upah layak dan kondisi kerja yang manusiawi
Marsinah aktif dalam berbagai aksi unjuk rasa buruh, terutama pada awal Mei 1993. Ia terlibat dalam rapat-rapat dan aksi mogok kerja bersama rekan-rekannya untuk menuntut kenaikan upah pokok dan tunjangan tetap. Keberaniannya memimpin aksi dan memperjuangkan keadilan membuatnya dihormati di kalangan buruh dan menjadi inspirasi hingga kini.
10 April 1969
Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, Indonesia