Indonesia memiliki sejarah panjang atas perjuangan yang tak hanya diisi oleh para kaum lelaki, tetapi juga oleh para wanita yang sangat tangguh dan penuh pengorbanan.

Pahlawan Nasional Wanita ini memiliki peran besar dalam berbagai bidang, seperti melawan penjajah, berani membela hak-hak perempuan, memperjuangkan hak pendidikan, dan menjaga kehormatan bangsa.

Mereka menunjukkan eksistensi peran dalam perjuangan wanita di berbagai bidang tanpa mengabaikan kodratnya sebagai perempuan. Para pahlawan wanita yang tampil langsung di medan perang, yang bergerak di ranah sosial, mereka yang melakukan perlawanan melalui jurnalisme, yang membangun organisasi untuk memperkuat perlawanan kepada penjajah, menunjukkan berbagai peran yang dilakukan dalam melawan penjajah. Maka perempuan saat ini tentu harus bisa berkiprah lebih luas lagi di berbagai bidang di era kemerdekaan.

Jejak Perjuangan 18 Pahlawan Nasional Wanita Indonesia

Raden Ajeng Kartini

Raden Ajeng Kartini adalah seorang tokoh wanita pejuang yang mewariskan pemikiran revolusioner mengenai hak-hak perempuan dan pendidikan. Meskipun hidupnya sangat singkat, perjuangannya melalui pena berhasil menembus batas-batas sosial dan budaya, menginspirasi gerakan-gerakan kebangkitan perempuan di Indonesia.

Kelahiran :
21 April 1879
Jepara, Hindia Belanda
 
Meninggal
17 September 1904 (umur 25) Rembang, Hindia Belanda
 
Makam
Bulu, Rembang,
Jawa Tengah, Indonesia
 
Perjuangan
Emansipasi wanita dan pendidikan untuk perempuan pribumi

Martha Christina Tiahahu

Martha Christina Tiahahu adalah seorang gadis dari negeri Abubu di Nusalaut, Maluku Tengah. Pada usia 17 tahun, ia ikut mengangkat senjata melawan tentara kolonial Belanda. Ayahnya adalah Kapitan Paulus Tiahahu, seorang kapitan dari negeri Abubu yang membantu Thomas Matulessy dalam Perang Pattimura pada tahun 1817.

Kelahiran :
4 Januari 1800 Abubu, Nusa Laut, Maluku Tengah, Hindia Belanda
 
Meninggal :
2 Januari 1818 (umur 17) Laut Banda, Maluku, Indonesia
 
Makam :
Disemayamkan dengan penghormatan militer ke Laut Banda.
 
Perjuangan :
Pejuang wanita yang inspiratif dan sekaligus pahlawan wanita termuda di Indonesia, yang dikenal sebagai “Mutiara dari Nusa Laut”

Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien merupakan pahlawan perempuan Indonesia yang berasal dari Aceh. Ia dikenal karena keberaniannya memimpin pasukan melawan Belanda selama Perang Aceh.

Dengan strategi perang gerilya yang menakutkan pasukan kolonial, ia menunjukkan kepemimpinan inspiratif dan pengorbanan pribadi yang besar demi kemerdekaan Aceh. Hal ini sekaligus menjadi penyebab pemberian gelar “Ratu Aceh” kepada Cut Nyak Dhien.

Kelahiran :
12 Mei 1848
Lampadang, Kesultanan Aceh
 
Meninggal :
6 November 1908 (umur 60) Sumedang, Hindia Belanda
 
Makam :
Komplek Pemakaman Cut Nyak Dien, Sumedang, Jawa Barat
 
Perjuangan :
Pemimpin pasukan gerilya Perang Aceh, Ia dijuluki “Ratu Aceh” atau “Ibu Perbu” Selama di Sumedang

Cut Nyak Meutia

Cut Nyak Meutia adalah pahlawan wanita lain dari Aceh yang juga berjuang melawan penjajahan Belanda. Setelah kematian suaminya, Pang Nangroe, ia melanjutkan perjuangan dengan mengobarkan semangat perlawanan rakyat Aceh.

Dengan keberanian yang luar biasa, Cut Nyak Meutia terus memimpin pasukan hingga akhirnya gugur dalam perang di Alue Kurieng pada tanggal 24 Oktober 1910.

Kelahiran :
15 Februari 1870 Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, Kesultanan Aceh
 
Meninggal :
24 Oktober 1910 (umur 40) Belanda Alue Kurieng, Aceh, Hindia Belanda
 
Makam :
Kawasan hutan lindung Gunung Lipeh, Ujung Krueng Kereuto, Pirak Timur, Aceh Utara.⁣⁣⁣
 
Perjuangan :
Mendedikasikan diri untuk membela hak kemerdekaan rakyat Aceh melalui gerilya.

Raden Dewi Sartika

Raden Dewi Sartika berjuang menjadi pelopor pendidikan kaum wanita yang saat itu dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Raden Dewi Sartika lahir di Cicalengka, Jawa Barat, pada 4 Desember 1884.

Pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika memprakarsai Sekolah Isteri Wanita di Pendopo Kabupaten Bandung. Kemudian, ia  sempat pindah tempat tinggal di Jalan Ciguriang tahun 1910 dan kemudian mendirikan Sekolah Kaoetamaan Isteri. Alasan pendirian sekolah tersebut salah satunya agar perempuan menjadi istri yang cerdas, merdeka, dan berani.

Kelahiran :
4 Desember 1884
Cicalengka, Bandung, Keresidenan Priangan, Hindia Belanda
 
Meninggal :
11 September 1947 (umur 62)
Cineam, Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia
 
Makam :
Kompleks Pemakaman Jalan Karang Anyar, Kabupaten Bandung.
 
Perjuangan :
Pelopor pendidikan modern bagi anak perempuan di tanah Sunda.

Maria Walanda Maramis

Maria Walanda Maramis dikenal sebagai pelopor organisasi perempuan di Minahasa yang memperjuangkan hak perempuan, khususnya dalam bidang pendidikan dan sosial ekonomi.

Pada tahun 1917, ia mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya) untuk memajukan pendidikan perempuan.

Selain itu, Maria juga mendirikan Huishoudschool PIKAT sebagai sekolah rumah tangga untuk gadis-gadis di Manado.

Kelahiran :
1 Desember 1872
Kema, Minahasa Utara, Hindia Belanda
 
Meninggal :
22 April 1924 (umur 51) Maumbi, Minahasa Utara, Hindia Belanda
 
Makam :
Makam Pahlawan Nasional Maria Walanda Maramis, Jalan Raya Manado-Bitung, Desa Maumbi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara.
 
Perjuangan :
Pelopor organisasi perempuan di Minahasa yang memperjuangkan hak perempuan, khususnya dalam bidang pendidikan dan sosial ekonomi.

Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan)

Siti Walidah, atau dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, adalah pendiri organisasi perempuan Islam ‘Aisyiyah.

Semasa hidupnya, Nyai Ahmad Dahlan memprakarsai didirikannya asrama putri wanita untuk pendidikan Islam yang didalamnya mempelajari retorika hingga dakwah Islam. Selain itu, ia juga mendirikan Sopo Tresno pada 1941. Untuk memimpin perjuangan rakyat, Nyai Ahmad Dahlan bersama Soekarno dan Soedirman pernah diskusi bersama membahas perang melawan pemerintah kolonial.

Kelahiran :
3 Januari 1872
Kauman, Yogyakarta, Hindia Belanda
 
Meninggal :
31 Mei 1946 (umur 74)
Kauman, Yogyakarta, Indonesia
 
Makam :
Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta
 
Perjuangan :
Melalui Aisyiyah, Siti Walidah mendirikan sekolah-sekolah putri dan asrama, serta keaksaraan dan program pendidikan Islam bagi perempuan.

Nyai Ageng Serang

Pada periode sejarah tahun 1755 – tahun 1830 masyarakat belum mengenal arti emansipasi. Seperti diketahui, kedudukan wanita pada waktu itu tidak seperti status wanita abad ke 20. Namun Nyi Ageng Serang adalah seorang pejuang wanita yang maju ke medan pertempuran melawan pasukan penjajah dalam Perang Diponegoro pada tahun 1825 – 1830.

Dalam berbagai pertempuran yang dipimpin oleh Nyi Ageng Serang dan cucunya Raden Mas Papak selalu dapat mengalahkan Belanda, dengan taktiknya yang terkenal kamuflase daun lumbu (daun keladi).

Kelahiran :
1 Oktober 1752
Sragen, Hindia Belanda
 
Meninggal :
Juli 1828 (umur 76)
Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Hindia Belanda
 
Makam :
Bukit Traju Mas, Padukuhan Beku, Kalurahan Banjarharjo, Kabupaten Kulon Progo
 
Perjuangan :
Pada awal Perang Diponegoro pada tahun 1825, Nyai Ageng Serang yang berusia 73 tahun memimpin pasukan dengan tandu untuk membantu Pangeran Diponegoro melawan Belanda.

Malahayati

Sejarah maritim Indonesia mencatat nama Keumalahayati atau yang lebih dikenal sebagai Laksamana Malahayati, seorang panglima angkatan laut Kesultanan Aceh Darussalam yang hidup pada abad ke-16. Ia tidak hanya dikenal sebagai salah satu panglima perang paling ditakuti, tetapi juga diakui sebagai laksamana perempuan pertama di dunia yang diangkat secara profesional.

Lahir sekitar tahun 1550 M di Aceh Besar, Malahayati berasal dari keluarga bangsawan maritim. Ayah dan kakeknya adalah laksamana Kesultanan Aceh, menanamkan semangat kelautan dan militer sejak dini. Malahayati menempuh pendidikan di Akademi Militer Ma’had Baitul Maqdis, khusus pada jurusan Angkatan Laut, di mana ia mengasah strategi perang dan taktik maritim.

Kelahiran :
1 Januari 1550
Aceh Besar, Kesultanan Aceh
 
Meninggal :
30 Juni 1606 (umur 56)
Tanjung Krueng Raya, Kesultanan Aceh
 
Makam :
Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar
 
Perjuangan :
Pemimpin armada laut yang ulung, sehingga mendapat julukan “Panglima Perang Laut

H. R. Rasuna Said

Rasuna Said adalah sosok pejuang yang berani bersuara menentang penjajahan, bahkan dijuluki Singa Betina oleh Bung Karno karena keteguhannya.

Beliau aktif berjuang lewat pidato, tulisan, hingga organisasi perempuan untuk memajukan pendidikan dan kemerdekaan.

Semangatnya mengingatkan kita bahwa suara perempuan layak didengar, dan bahwa pendidikan adalah kunci untuk memperkuat emansipasi perempuan

Kelahiran :
14 September 1910
Maninjau, Agam, Hindia Belanda
 
Meninggal :
2 November 1965 (umur 55)
Jakarta, Indonesia
 
Makam :
Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.
 
Perjuangan :
Pejuang kemerdekaan Indonesia dan hak-hak perempuan, khususnya hak dalam pendidikan dan partisipasi dalam politik

Fatmawati

Fatmawati adalah salah satu pahlawan wanita yang memiliki peran sangat penting dalam sejarah perjuangan Indonesia, khususnya pada saat Proklamasi Kemerdekaan. Sebagai istri dari Presiden Soekarno, ia tidak hanya mendampingi sang suami dalam momen-momen krusial, tetapi juga berperan langsung dalam peristiwa besar yang menandai kemerdekaan bangsa ini.

Salah satu kontribusi terbesar yang dikenang adalah jasanya dalam menjahit bendera Merah Putih yang dikibarkan pada Proklamasi 17 Agustus 1945.

Kelahiran :
5 Februari 1923
Benkoelen, Hindia Belanda
 
Meninggal :
14 Mei 1980 (umur 57)
Kuala Lumpur, Malaysia
 
Makam :
Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat
 
Perjuangan :
Fatmawati bukan hanya penjahit Sang Saka Merah Putih saja, Beliau adalah simbol dari keberanian, ketulusan dan cinta tanah air sebagai pengabdian seorang Ibu Negara

Fatimah Siti Hartinah
(Tien Soeharto)

Seiring terpilihnya Soeharto sebagai Presiden pada tahun 1967, Ibu Tien Soeharto resmi menyandang peran sebagai Ibu Negara Indonesia dan menjalankan tugas tersebut hingga tahun 1996. Selama hampir 29 tahun mendampingi pemerintahan Orde Baru, Ibu Tien dikenal memiliki pengaruh yang cukup besar dalam berbagai kegiatan sosial, kebudayaan, dan pembangunan nasional.

Salah satu kontribusinya yang paling dikenal adalah gagasannya dalam pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang bertujuan memperkenalkan dan melestarikan keragaman budaya Indonesia.

Kelahiran :
23 Agustus 1923
Jaten, Kadipatèn Mangkunagaran, Hindia Belanda
 
Meninggal :
28 April 1996 (umur 72)
Jakarta, Indonesia
 
Makam :
Astana Giri Bangun, Jawa Tengah.
 
Perjuangan :
Selain aktif dalam kegiatan sosial dan kebudayaan, Ibu Tien juga dikenal sebagai sosok yang menaruh perhatian pada nilai-nilai keluarga dan tradisi.

Opu Daeng Risadju

Beliau merupakan pemimpin partai politik perempuan pertama di Sulawesi Selatan dan aktif menyebarkan semangat kemerdekaan melalui ideologi partai ke berbagai daerah seperti Bajo, Belopa, dan Malili.

Selama masa perjuangan, ia mengalami penyiksaan fisik yang berat dari tentara NICA, termasuk hukuman lari mengelilingi lapangan di bawah ancaman letusan senapan di dekat telinganya yang mengakibatkan ia menderita tuli permanen seumur hidup.

Kelahiran :
Palopo pada 1880
 
Meninggal :
10 Februari 1964 (umur 84)
Palopo, Sulawesi Selatan
 
Makam :
Perkuburan raja-raja Lokkoe di Palopo, kemudian makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Belopa setelah ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional
 
Perjuangan :
Dikenal sebagai politisi dan pejuang yang berani melawan Belanda pada masa Revolusi Nasional. Belanda bahkan melabelinya sebagai “ekstremis perempuan yang paling berbahaya”.

Andi Depu Maraddia Balanipa

Andi Depu merupakan seorang pahlawan nasional wanita asal Mandar, Sulawesi Barat. Ia dikenal atas jasa dan keberaniannya dalam melawan penjajah di tanah Mandar. Saat masa pendudukan Jepang, Andi Depu turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia juga ikut serta dalam menyebarkan berita kemerdekaan di wilayah Mandar pada tahun 1945.

Tak hanya itu, melalui organisasi badan perjuangan dan aktivitas gerilya, ia melakukan perlawanan terhadap NICA (Netherlands Indies Civil Administration atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) dan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) di Sulawesi pada periode 1945-1950.

Kelahiran :
Agustus 1907
Tinambung, Polewali Mandar
 
Meninggal :
18 Juni 1985 (Umur 78)
Makassar
 
Makam :
Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar
 
Perjuangan :
Sosok perempuan inspiratif yang telah memberikan dedikasi yang tinggi dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, khususnya di jazirah Mandar.

Ratna Kencana (Ratu Kalinyamat)

Di abad 16 M, sosok wanita ini telah dikenal oleh orang Portugis sebagai seorang pemberani. Masyarakat Jepara mengenalnya sebagai Ratu Kalinyamat. Sejak masih gadis, Ia telah memusuhi Portugis dan semakin sengit rasa permusuhannya setelah menjadi penguasa Jepara.

Seorang penulis Portugis bernama Diego de Couto menuliskan tentang Ratu Kalinyamat dalam kalimat Rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige dame yang artinya Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani.

Kelahiran :
Pada tahun 1520
Demak (Demak Bintoro)
 
Meninggal :
Tahun 1579 (umur 59)
Jepara (Kalinyamat)
 
Makam :
Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.
 
Perjuangan :
Penguasa Jepara yang berani dan ahli strategi perang. Di bawah kepemimpinannya, kekuatan maritim Jepara menjadi salah satu yang paling disegani di Asia Tenggara.

Rohana Kudus

Adalah wartawati pertama Indonesia. Pada 1911, Ruhana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Sembari aktif di bidang pendidikan yang disenanginya, Ruhana menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia.

Ketika dibredel pemerintah Hindia Belanda, Ruhana berinisiatif mendirikan surat kabar, bernama Sunting Melayu, yang tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Roehana hidup pada zaman yang sama dengan Kartini, ketika akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi.

Kelahiran :
20 Desember 1884
Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda
 
Meninggal :
7 Agustus 1972 (umur 87)
Jakarta, Indonesia
 
Makam :
Taman Pemakaman Umum
Karet Bivak Jakarta Pusat
 
Perjuangan :
Jurnalis perempuan pertama Indonesia dan pendiri surat kabar Soenting Melajoe, wadah suara bagi perempuan pada masanya.

Rahmah El Yunusiyyah

Seorang reformator pendidikan Islam dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pendiri Diniyah Putri, perguruan yang saat ini meliputi taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Sewaktu Revolusi Nasional Indonesia, ia memelopori pembentukan unit perbekalan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padang Panjang serta menjamin seluruh perbekalan dan membantu pengadaan alat senjata mereka.

Keberadaan Diniyah Putri kelak menginspirasi Universitas Al-Azhar membuka Kulliyatul Banat, fakultas yang dikhususkan untuk perempuan. Pada 1955

Kelahiran :
26 Oktober 1900
Nagari Bukit Surungan,Padang Panjang, Hindia Belanda
 
Meninggal :
26 Februari 1969 (umur 68)
Padang Panjang, Sumatera Barat, Indonesia
 
Makam :
Pekuburan keluarga yang terletak di samping rumahnya
 
Perjuangan :
Tokoh pendidikan dan sosok penegak harkat martabat perempuan dan pergerakan kemerdekaan bangsa.

Marsinah

Marsinah adalah seorang aktivis buruh dan pekerja pabrik asal Indonesia yang menjadi simbol perjuangan hak-hak buruh di era Orde Baru. Bekerja sebagai buruh di PT Catur Putra Surya (CPS), sebuah pabrik arloji di Porong, Sidoarjo. Marsinah dikenal sebagai sosok vokal yang berani memperjuangkan hak-hak pekerja, terutama terkait upah layak dan kondisi kerja yang manusiawi

Marsinah aktif dalam berbagai aksi unjuk rasa buruh, terutama pada awal Mei 1993. Ia terlibat dalam rapat-rapat dan aksi mogok kerja bersama rekan-rekannya untuk menuntut kenaikan upah pokok dan tunjangan tetap. Keberaniannya memimpin aksi dan memperjuangkan keadilan membuatnya dihormati di kalangan buruh dan menjadi inspirasi hingga kini.

Kelahiran :
10 April 1969
Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, Indonesia
 
Meninggal :
5 Mei 1993 (umur 24) Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia
 
Makam :
Pemakaman umum di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Nganjuk, Jawa Timur.
 
Perjuangan :
Menegakkan prinsip-prinsip dasar yang kini menjadi pilar hubungan industrial di Indonesia, yaitu keadilan, kesejahteraan, dan perlindungan hukum bagi pekerja.

Raden Ajeng Kartini

Kartini adalah seorang pejuang kemerdekaan dan kedudukan kaumnya, pada saat itu terutama wanita Jawa.

Raden Ajeng Kartini adalah seorang tokoh penting yang mewariskan pemikiran revolusioner mengenai hak-hak perempuan dan pendidikan. Meskipun hidupnya singkat, perjuangannya melalui pena berhasil menembus batas-batas sosial dan budaya, menginspirasi gerakan kebangkitan perempuan di Indonesia.

Kelahiran

21 April 1879
Jepara, Hindia Belanda

Meninggal
17 September 1904 (umur 25) Rembang, Hindia Belanda
Makam
Bulu, Rembang,
Jawa Tengah, Indonesia
Perjuangan
Emansipasi wanita dan pendidikan untuk perempuan pribumi

Martha Christina Tiahahu

Martha Christina Tiahahu adalah seorang gadis dari negeri Abubu di Nusalaut, Maluku Tengah. Pada usia 17 tahun, ia ikut mengangkat senjata melawan tentara kolonial Belanda. Ayahnya adalah Kapitan Paulus Tiahahu, seorang kapitan dari negeri Abubu yang membantu Thomas Matulessy dalam Perang Pattimura pada tahun 1817.

Kelahiran

4 Januari 1800 Abubu, Nusa Laut, Maluku Tengah, Hindia Belanda

Meninggal
2 Januari 1818 (umur 17) Laut Banda, Maluku, Indonesia
Makam
Disemayamkan dengan penghormatan militer ke Laut Banda.
Perjuangan
Pejuang perempuan yang inspiratif dan sekaligus pahlawan wanita termuda di Indonesia, dikenal sebagai “Mutiara dari Nusa Laut”

Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien merupakan pahlawan perempuan Indonesia yang berasal dari Aceh. Ia dikenal karena keberaniannya memimpin pasukan melawan Belanda selama Perang Aceh.

Dengan strategi perang gerilya yang menakutkan pasukan kolonial, ia menunjukkan kepemimpinan inspiratif dan pengorbanan pribadi yang besar demi kemerdekaan Aceh. Hal ini sekaligus menjadi penyebab pemberian gelar “Ratu Aceh” kepada Cut Nyak Dhien.

Kelahiran
12 Mei 1848
Lampadang, Kesultanan Aceh
Meninggal
6 November 1908 (umur 60) Sumedang, Hindia Belanda
Makam
Komplek Pemakaman Cut Nyak Dien, Sumedang, Jawa Barat
Perjuangan
Pemimpin pasukan gerilya Perang Aceh, Ia dijuluki “Ratu Aceh” atau “Ibu Perbu” Selama di Sumedang

Cut Nyak Meutia

Cut Nyak Meutia adalah pahlawan wanita lain dari Aceh yang juga berjuang melawan penjajahan Belanda. Setelah kematian suaminya, Pang Nangroe, ia melanjutkan perjuangan dengan mengobarkan semangat perlawanan rakyat Aceh.

Dengan keberanian yang luar biasa, Cut Nyak Meutia terus memimpin pasukan hingga akhirnya gugur dalam perang di Alue Kurieng pada tanggal 24 Oktober 1910.

Kelahiran

15 Februari 1870 Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, Kesultanan Aceh

Meninggal
24 Oktober 1910 (umur 40) Belanda Alue Kurieng, Aceh, Hindia Belanda
Makam
Kawasan hutan lindung Gunung Lipeh, Ujung Krueng Kereuto, Pirak Timur, Aceh Utara.⁣⁣⁣
Perjuangan
Mendedikasikan diri untuk membela hak kemerdekaan rakyat Aceh melalui gerilya.

Raden Dewi Sartika

Raden Dewi Sartika berjuang menjadi pelopor pendidikan kaum wanita yang saat itu dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Raden Dewi Sartika lahir di Cicalengka, Jawa Barat, pada 4 Desember 1884.

Pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika memprakarsai Sekolah Isteri Wanita di Pendopo Kabupaten Bandung. Kemudian, ia  sempat pindah tempat tinggal di Jalan Ciguriang tahun 1910 dan kemudian mendirikan Sekolah Kaoetamaan Isteri. Alasan pendirian sekolah tersebut salah satunya agar perempuan menjadi istri yang cerdas, merdeka, dan berani.

Kelahiran
4 Desember 1884
Cicalengka, Bandung, Keresidenan Priangan, Hindia Belanda
Meninggal
11 September 1947 (umur 62)
Cineam, Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia
Makam
Kompleks Pemakaman Jalan Karang Anyar, Kabupaten Bandung.
Perjuangan
Pelopor pendidikan modern bagi anak perempuan di tanah Sunda.

Maria Walanda Maramis

Maria Walanda Maramis dikenal sebagai pelopor organisasi perempuan di Minahasa yang memperjuangkan hak perempuan, khususnya dalam bidang pendidikan dan sosial ekonomi.

Pada tahun 1917, ia mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya) untuk memajukan pendidikan perempuan.

Selain itu, Maria juga mendirikan Huishoudschool PIKAT sebagai sekolah rumah tangga untuk gadis-gadis di Manado.

Kelahiran

1 Desember 1872
Kema, Minahasa Utara, Hindia Belanda

Meninggal
22 April 1924 (umur 51) Maumbi, Minahasa Utara, Hindia Belanda
Makam
Makam Pahlawan Nasional Maria Walanda Maramis, Jalan Raya Manado-Bitung, Desa Maumbi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara.
Perjuangan
Pelopor organisasi perempuan di Minahasa yang memperjuangkan hak perempuan, khususnya dalam bidang pendidikan dan sosial ekonomi.

Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan)

Siti Walidah, atau dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, adalah pendiri organisasi perempuan Islam ‘Aisyiyah.

Semasa hidupnya, Nyai Ahmad Dahlan memprakarsai didirikannya asrama putri wanita untuk pendidikan Islam yang didalamnya mempelajari retorika hingga dakwah Islam. Selain itu, ia juga mendirikan Sopo Tresno pada 1941. Untuk memimpin perjuangan rakyat, Nyai Ahmad Dahlan bersama Soekarno dan Soedirman pernah diskusi bersama membahas perang melawan pemerintah kolonial.

Kelahiran
3 Januari 1872
Kauman, Yogyakarta, Hindia Belanda
Meninggal
31 Mei 1946 (umur 74)
Kauman, Yogyakarta, Indonesia
Makam
Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta
Perjuangan
Melalui Aisyiyah, Siti Walidah mendirikan sekolah-sekolah putri dan asrama, serta keaksaraan dan program pendidikan Islam bagi perempuan.

Nyai Ageng Serang

Pada periode sejarah tahun 1755 – tahun 1830 masyarakat belum mengenal arti emansipasi. Seperti diketahui, kedudukan wanita pada waktu itu tidak seperti status wanita abad ke 20. Namun Nyi Ageng Serang adalah seorang pejuang wanita yang maju ke medan pertempuran melawan pasukan penjajah dalam Perang Diponegoro pada tahun 1825 – 1830.

Dalam berbagai pertempuran yang dipimpin oleh Nyi Ageng Serang dan cucunya Raden Mas Papak selalu dapat mengalahkan Belanda, dengan taktiknya yang terkenal kamuflase daun lumbu (daun keladi).

Kelahiran

1 Oktober 1752
Sragen, Hindia Belanda

Meninggal
Juli 1828 (umur 76)
Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Hindia Belanda
Makam
Bukit Traju Mas, Padukuhan Beku, Kalurahan Banjarharjo, Kabupaten Kulon Progo
Perjuangan
Pada awal Perang Diponegoro pada tahun 1825, Nyai Ageng Serang yang berusia 73 tahun memimpin pasukan dengan tandu untuk membantu Pangeran Diponegoro melawan Belanda.

Malahayati

Sejarah maritim Indonesia mencatat nama Keumalahayati atau yang lebih dikenal sebagai Laksamana Malahayati, seorang panglima angkatan laut Kesultanan Aceh Darussalam yang hidup pada abad ke-16. Ia tidak hanya dikenal sebagai salah satu panglima perang paling ditakuti, tetapi juga diakui sebagai laksamana perempuan pertama di dunia yang diangkat secara profesional.

Lahir sekitar tahun 1550 M di Aceh Besar, Malahayati berasal dari keluarga bangsawan maritim. Ayah dan kakeknya adalah laksamana Kesultanan Aceh, menanamkan semangat kelautan dan militer sejak dini. Malahayati menempuh pendidikan di Akademi Militer Ma’had Baitul Maqdis, khusus pada jurusan Angkatan Laut, di mana ia mengasah strategi perang dan taktik maritim.

Kelahiran
1 Januari 1550
Aceh Besar, Kesultanan Aceh
Meninggal
30 Juni 1606 (umur 56)
Tanjung Krueng Raya, Kesultanan Aceh
Makam
Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar
Perjuangan
Pemimpin armada laut yang ulung, sehingga mendapat julukan “Panglima Perang Laut

H. R. Rasuna Said

Rasuna Said adalah sosok pejuang yang berani bersuara menentang penjajahan, bahkan dijuluki Singa Betina oleh Bung Karno karena keteguhannya.

Beliau aktif berjuang lewat pidato, tulisan, hingga organisasi perempuan untuk memajukan pendidikan dan kemerdekaan.

Semangatnya mengingatkan kita bahwa suara perempuan layak didengar, dan bahwa pendidikan adalah kunci untuk memperkuat emansipasi perempuan

Kelahiran

14 September 1910
Maninjau, Agam, Hindia Belanda

Meninggal
2 November 1965 (umur 55)
Jakarta, Indonesia
Makam
Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.
Perjuangan
Pejuang kemerdekaan Indonesia dan hak-hak perempuan, khususnya hak dalam pendidikan dan partisipasi dalam politik

Fatmawati

Fatmawati adalah salah satu pahlawan wanita yang memiliki peran sangat penting dalam sejarah perjuangan Indonesia, khususnya pada saat Proklamasi Kemerdekaan. Sebagai istri dari Presiden Soekarno, ia tidak hanya mendampingi sang suami dalam momen-momen krusial, tetapi juga berperan langsung dalam peristiwa besar yang menandai kemerdekaan bangsa ini. Salah satu kontribusi terbesar yang dikenang adalah jasanya dalam menjahit bendera Merah Putih yang dikibarkan pada Proklamasi 17 Agustus 1945.

Kelahiran
5 Februari 1923
Benkoelen, Hindia Belanda
Meninggal
14 Mei 1980 (umur 57)
Kuala Lumpur, Malaysia
Makam
Taman Pemakaman Umum
Karet Bivak
Perjuangan
Fatmawati bukan hanya penjahit Sang Saka Merah Putih saja, Beliau adalah simbol keberanian, ketulusan dan cinta tanah air sebagai pengabdian seorang Ibu Negara

Fatimah Siti Hartinah (Ibu Tien Soeharto)

Seiring terpilihnya Soeharto sebagai Presiden pada tahun 1967, Ibu Tien Soeharto resmi menyandang peran sebagai Ibu Negara Indonesia dan menjalankan tugas tersebut hingga tahun 1996. Selama hampir 29 tahun mendampingi pemerintahan Orde Baru, Ibu Tien dikenal memiliki pengaruh yang cukup besar dalam berbagai kegiatan sosial, kebudayaan, dan pembangunan nasional. Salah satu kontribusinya yang paling dikenal adalah gagasannya dalam pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang bertujuan memperkenalkan dan melestarikan keragaman budaya Indonesia.

Kelahiran

23 Agustus 1923
Jaten, Kadipatèn Mangkunagaran, Hindia Belanda

Meninggal
28 April 1996 (umur 72)
Jakarta, Indonesia
Makam
Astana Giri Bangun, Jawa Tengah.
Perjuangan
Selain aktif dalam kegiatan sosial dan kebudayaan, Ibu Tien juga dikenal sebagai sosok yang menaruh perhatian pada nilai-nilai keluarga dan tradisi.

Opu Daeng Risadju

Ia merupakan pemimpin partai politik perempuan pertama di Sulawesi Selatan dan aktif menyebarkan semangat kemerdekaan melalui ideologi partai ke berbagai daerah seperti Bajo, Belopa, dan Malili.

Selama masa perjuangan, ia mengalami penyiksaan fisik yang berat dari tentara NICA, termasuk hukuman lari mengelilingi lapangan di bawah ancaman letusan senapan di dekat telinganya yang mengakibatkan ia menderita tuli permanen seumur hidup.

Kelahiran
Palopo pada 1880
Meninggal
10 Februari 1964 (umur 84)
Palopo, Sulawesi Selatan,
Makam
Perkuburan raja-raja Lokkoe di Palopo, kemudian makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Belopa setelah ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional
Perjuangan
Dikenal sebagai politisi dan pejuang yang berani melawan Belanda pada masa Revolusi Nasional. Belanda bahkan melabelinya sebagai “ekstremis perempuan yang berbahaya”.

Andi Depu Maraddia Balanipa

Andi Depu merupakan seorang pahlawan nasional wanita asal Mandar, Sulawesi Barat. Ia dikenal atas jasa dan keberaniannya dalam melawan penjajah di tanah Mandar. Saat masa pendudukan Jepang, Andi Depu turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia juga ikut serta dalam menyebarkan berita kemerdekaan di wilayah Mandar pada tahun 1945.

Tak hanya itu, melalui organisasi badan perjuangan dan aktivitas gerilya, ia melakukan perlawanan terhadap NICA (Netherlands Indies Civil Administration atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) dan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) di Sulawesi pada periode 1945-1950.

Kelahiran

Agustus 1907
Tinambung, Polewali Mandar

Meninggal
18 Juni 1985 (Umur 78)
Makassar
Makam
Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar
Perjuangan
Sosok perempuan inspiratif yang telah memberikan dedikasi yang tinggi dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, khususnya di jazirah Mandar.

Ratna Kencana (Ratu Kalinyamat)

Di abad 16 M, sosok wanita ini telah dikenal oleh orang Portugis sebagai seorang pemberani. Masyarakat Jepara mengenalnya sebagai Ratu Kalinyamat. Sejak masih gadis, Ia telah memusuhi Portugis dan semakin sengit rasa permusuhannya setelah menjadi penguasa Jepara.

Seorang penulis Portugis bernama Diego de Couto menuliskan tentang Ratu Kalinyamat dalam kalimat Rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige dame yang artinya Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani.

Kelahiran
Pada tahun 1520
Demak (Demak Bintoro
Meninggal
Tahun 1579 (umur 59)
Jepara (Kalinyamat)
Makam
Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.
Perjuangan
Penguasa Jepara yang berani dan ahli strategi perang. Di bawah kepemimpinannya, kekuatan maritim Jepara menjadi salah satu yang paling disegani di Asia Tenggara.

Rohana Kudus

Adalah wartawati pertama Indonesia. Pada 1911, Ruhana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Sembari aktif di bidang pendidikan yang disenanginya, Ruhana menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia.

Ketika dibredel pemerintah Hindia Belanda, Ruhana berinisiatif mendirikan surat kabar, bernama Sunting Melayu, yang tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Roehana hidup pada zaman yang sama dengan Kartini, ketika akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi.

Kelahiran

20 Desember 1884
Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda

Meninggal
7 Agustus 1972 (umur 87)
Jakarta, Indonesia
Makam
Taman Pemakaman Umum
Karet Bivak Jakarta Pusat
Perjuangan
Jurnalis perempuan pertama Indonesia dan pendiri surat kabar Soenting Melajoe, wadah suara bagi perempuan pada masanya.

Rahmah El Yunusiyyah

Seorang reformator pendidikan Islam dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pendiri Diniyah Putri, perguruan yang saat ini meliputi taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Sewaktu Revolusi Nasional Indonesia, ia memelopori pembentukan unit perbekalan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padang Panjang serta menjamin seluruh perbekalan dan membantu pengadaan alat senjata mereka.

Keberadaan Diniyah Putri kelak menginspirasi Universitas Al-Azhar membuka Kulliyatul Banat, fakultas yang dikhususkan untuk perempuan. Pada 1955

Kelahiran
26 Oktober 1900 Nagari Bukit Surungan,Padang Panjang, Hindia Belanda
Meninggal
26 Februari 1969 (umur 68)
Padang Panjang, Sumatera Barat, Indonesia
Makam
Pekuburan keluarga yang terletak di samping rumahnya
Perjuangan
Tokoh pendidikan dan sosok penegak harkat martabat perempuan dan pergerakan kemerdekaan bangsa.

Marsinah

Marsinah adalah seorang aktivis buruh dan pekerja pabrik asal Indonesia yang menjadi simbol perjuangan hak-hak buruh di era Orde Baru. Bekerja sebagai buruh di PT Catur Putra Surya (CPS), sebuah pabrik arloji di Porong, Sidoarjo. Marsinah dikenal sebagai sosok vokal yang berani memperjuangkan hak-hak pekerja, terutama terkait upah layak dan kondisi kerja yang manusiawi

Marsinah aktif dalam berbagai aksi unjuk rasa buruh, terutama pada awal Mei 1993. Ia terlibat dalam rapat-rapat dan aksi mogok kerja bersama rekan-rekannya untuk menuntut kenaikan upah pokok dan tunjangan tetap. Keberaniannya memimpin aksi dan memperjuangkan keadilan membuatnya dihormati di kalangan buruh dan menjadi inspirasi hingga kini.

Kelahiran

10 April 1969
Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, Indonesia

Meninggal
5 Mei 1993 (pada umur 24 tahun) Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia
Makam
Pemakaman umum di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Nganjuk, Jawa Timur.
Perjuangan
Menegakkan prinsip-prinsip dasar yang kini menjadi pilar hubungan industrial di Indonesia, yaitu keadilan, kesejahteraan, dan perlindungan hukum bagi pekerja.